Minggu, 12 April 2009

Pasar Patin Menganga, Indonesia Ternganga


Meski kaya sungai besar, Indonesia belum mampu memanfaatkannya untuk produksi patin secara besar-besaran sebagaimana Vietnam

Ini peluang besar. Seperempat penduduk Amerika Serikat dan Eropa membutuhkan pasokan ikan murah. Dan kandidat utama untuk mengisi pasar tersebut tak lain adalah ikan patin, salahsatu jenis ikan berkumis selain lele yang banyak dijumpai di sungai-sungai besar di tanah air.
Sayang, lagi-lagi peluang besar tersebut sudah disabet duluan oleh Vietnam. Negeri Paman Ho itu menjadi pemasok patin terbesar dunia dengan volume ekspor mencapai satu juta ton pada 2007. Padahal, budidaya patin di sana hanya dilakukan di sepanjang Sungai Mekong yang hanya beberapa kilometer saja panjangnya. Sementara Indonesia yang nyata-nyata kaya akan sungai besar malah gigit jari. Data dari Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) menyebutkan, produksi budidaya patin di Indonesia pada tahun yang sama baru mencapai sekitar 36 ribu ton lebih.
Walau demikian, peluang pasar tetap terbuka lebar. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, DKP, Made L Nurdjana pada seminar antisipasi kemungkinan pengenaan UU antidumping produk perikanan nasional di pasar AS medio Juni lalu di Jakarta menyebutkan, Eropa dan Amerika khawatir jika kebutuhan mereka akan patin tak bisa terpenuhi jika hanya mengandalkan Vietnam. Karena itulah mereka meminta Indonesia agar ikut mengisi pasar patin di sana.
Tentu saja, peluang itu tak akan dibuang percuma. Nurdjana sangat optimis Indonesia bisa menyamai produksi patin Vietnam. “Jika Vietnam saja mampu, mengapa Indonesia tidak bisa?” ucapnya.
Indonesia, kata Nurdjana, jauh lebih hebat dibandingkan Vietnam. Alasannya, Sungai Mekong yang mengalir di Vietnam sebelumnya telah melewati China, Thailand, Laos dan Myanmar. Aliran sungai tersebut dipastikan juga membawa bahan-bahan cemaran dari wilayah-wilayah yang telah dilewatinya sehingga kualitas airnya menurun. Dengan kata lain, kualitas patin yang dihasilkan dari sungai tersebut tidak terlalu bagus. Nurdjana yakin kualitas ikan patin Indonesia lebih unggul karena sungai-sungainya lebih bersih.
Sebagai langkah awal yang diambil pemerintah untuk menggenjot produksi patin adalah promosi patin. Strateginya dengan mengadakan acara bakar ikan patin massal di Jambi (7/6), salahsatu daerah yang menjadi sentra patin nasional. Ketika itu dilakukan pula pencanangan kampanye gemar makan ikan (gemarikan) dengan tema “Patin Jambi untuk Nusantara”.
Setidaknya acara tersebut berhasil membuat nama patin tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI). Ikan patin yang dibakar mencapai panjang 4.657 meter dan memecahkan rekor panjang ikan pada acara serupa sebelumnya. Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin mengatakan, acara ini diharapkan menjadi momentum bagi peningkatan produksi ikan patin di Jambi.
Dan sehari sebelumnya di tempat yang sama telah ada nota kersepahaman (MOU) antara pihak swasta dan petani patin untuk saling bekerjasama dalam mengembangkan patin nasional. Sadullah Muhdi, Direktur Pemasaran Dalam Negeri, DKP menyebutkan, MOU tersebut melibatkan tiga pilar usaha patin yakni petani patin, perusahaan pengolahan fillet yakni PT Sumber Laut Utama dan perusahaan pemasar fillet di dalam dan di luar negeri yaitu PT Karya Jaya Prima Utama.
Tak cuma itu, demi mengejar ketinggalan dari Vietnam, DKP mentargetkan terjadi peningkatan produksi patin sekitar 60% per tahun. Angka tersebut menurut Nurdjana berdasarkan pada angka kenaikan produksi patin di Jawa Barat yang mencapai 36% pada 2007. “Jawa Barat saja yang hanya budidaya patin di kolam bisa menaikkan produksi patin sampai sebesar itu, apalagi di wilayah lain yang banyak terdapat sungai besar,” kata Nurdjana beralasan. Berdasarkan target peningkatan tersebut, Indonesia hanya akan butuh waktu sekitar enam tahun untuk bisa menyamai produksi patin Vietnam saat ini. Masalahnya, apakah bisa menjamin produksi patin Vietnam akan stagnan pada angka satu juta ton pada 2014 nanti?

Kalah Kualitas
Sebenarnya sah saja jika pemerintah berobsesi untuk mengalahkan Vietnam dalam hal produksi patin. Tetapi ini bukan perkara enteng karena batu sandungannya juga banyak. Satu yang paling besar adalah daya saing. Tak usah jauh-jauh bicara pasar dunia, di pasar dalam negeri pun, patin lokal kalah bersaing dengan patin Vietnam.
Tengok saja beberapa supermarket dan swalayan di beberapa kota besar di tanah air. Tak akan sulit untuk menemukan dori steak, produk patin olahan dari Vietnam. Dan bisa diduga, dengan karakter kebanyakan orang Indonesia yang lebih menyukai barang impor, maka si dori pun konon laku keras.
Setali tiga uang, pelaku usaha pengolahan dan pemasar patin nasional pun cenderung memilih bahan baku patin dari Vietnam dibandingkan patin lokal. Alasannya klasik, produksi dalam negeri sangat sedikit, kualitasnya buruk dan harganya mahal. Demi mempertahankan perputaran roda perusahaan, tak ada jalan lain kecuali impor bahan baku.
Disebut-sebut, volume impor pada 2007 mencapai 1000 ton. Muchlison Zaini, Wakil Ketua Gappindo (Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia) menghitung, jika rendemen (daging yang dihasilkan dari seekor ikan) patin sekitar 40 sampai 45%, bahan baku ikan ynag dari impor tersebut bisa mencapai 2500 ton.
Lelaki yang akrab disapa Soni ini kemudian menyebutkan pertimbangan utama pengusaha mengimpor bahan baku adalah kualitas. “Mereka itu kan punya pabrik pengolahan dengan standar sanitasi dan higienitas yang tinggi, maka kualitas barang yang masuk juga harus bagus,” ujar Soni mengemukakan alasan.
Dia menambahkan, dari jenis ikannya, patin Indonesia dan patin Vietnam sebenarnya mempunyai kualitas sama. Hanya, di tingkat pengolahan, kualitas patin lokal harus ada pembenahan. Paling tidak, untuk menghasilkan daging patin (fillet) harus menerapkan standar pengolahan yang benar sesuai standar HACCP (standar pedoman pengawasan mutu).
Masalahnya, pabrik pengolahan patin menjadi fillet masih sangat sedikit di Indonesia. “Jumlahnya paling banter tidak sampai 5,” kata Soni. Pembuatan fillet patin ini lebih banyak dilakukan secara tradisional. “Karena itu kalau mau go international, ini harus ditingkatkan,” ujar Soni tegas.

sumber: TROBOS 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar