Rabu, 16 September 2009

Mereka Kepincut Belut



Tua, muda, laki-laki, perempuan, banyak yang terjun ke bisnis belut. Alasannya sangat masuk asal, permintaan pasarnya nggak jenuh-jenuh. Jangankan bisa menutupi kebutuhan pasar ekspor, memenuhi keperluan dalam negeri saja tak pernah luber. Karena itu pula Komalasari dan Lenny Huang tetap konsisten mengurut-urut laba sang belut.


Hj. Komalasari, 250 Kg Sehari

Komalasari, wanita paruh baya dari Sukaraja, Sukabumi, memang identik dengan belut. Cobalah menelusuri Cianjur sampai Sukabumi. Di sana mudah kita temukan oleh-oleh olahan belut beragam merek “berbau” Komalasari. Namun, Komalasari yang serius menggarap bisnis belut sejak 1980 justru menempelkan label “Flamboyan” pada produk belut olahannya.

Di tangan wanita yang satu ini, belut diutak-atik menjadi 14 jenis makanan. Mulai dari keripik, dendeng manis, balado, abon, hingga jamu berkhasiat. Setiap hari ia mengolah 100 kg belut segar. Plus 100 kg lagi yang khusus dijual segar. Di luar itu, ia juga menjual benih belut rata-rata 50 kg per hari.

Komalasari menjual hasil olahan belut dengan harga beragam, mulai dari Rp10.000 per bungkus sampai Rp140 ribu per kg. Sedangkan belut segar ia jual rata-rata Rp25.000 per kg. Khusus benih belut, harganya dipatok Rp40.000 per kg.

Selain dilempar ke pasar lokal, aneka produk olahan belut made in Bu Haji ini diekspor, misalnya ke Arab Saudi. Menurut dia, pesanan tersebut berasal dari permintaan TKI yang bermukim di sana. “Seminggu saya kirim 100 kg lewat kargo saja,” tandasnya.

Sumber : AGRINA ,September 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar