Kamis, 17 September 2009
Minggu, 12 April 2009
Gurame Sehat, Untung Hebat
Kuncinya, gurame harus sehat agar tumbuh cepat dan kerugian akibat kematian dapat ditekan.
Matahari belum bangun dari peraduannya, ketika serombongan orang menyusuri pematang di hamparan kolam gurami milik HR Soerjadi di desa Pabuaran, Kemang Bogor. Hari itu, Soerjadi menerima kunjungan studi banding anggota kelompok pembudidaya gurame Mina Raharja yang disponsori LSM Lembaga Pengkajian Agribisnis Strategis (LPAS). Jauh-jauh dari Jogjakarta, mereka ingin membangun kembali semangatnya setelah usahanya hancur terkena gempa dahsyat tahun lalu.
Pada kesempatan itu Soerjadi mengingatkan bahwa ikan gurame, kini telah menjadi komoditas yang bernilai ekonomi tinggi. Memang, dengan hitungan sederhana, dan harga gurame di kolam (Bogor) Rp 18.000,- maka didapat hasil penjualan kotor sebanyak Rp 36 juta, cukup untuk bayar biaya haji.
Jika dihitung dengan analisa sederhana, keuntungannya mencapai 20% ! Ikan sebanyak itu pun hanya membutuhkan kolam tak lebih dari 10 x 10 m2. Semakin kecil ukuran benih yang di tebar untung semakin besar meski berisiko semakin lama masa pemeliharaannya. Dari benih size 5 (5 ek/kg), dalam 4 – 5 bulan bisa dipanen 1 kg/ekor.
Kuncinya, gurame harus sehat agar tumbuh cepat dan kerugian akibat kematian dapat ditekan. Tindakan pencegahan dimulai dari penggunaan air yang tepat, pemilihan bibit yang bebas penyakit dan jelas asal-usulnya.
Mulai dari Air
Kunci utama kehidupan ikan adalah kuantitas dan kualitas air yang mampu menopang kehidupan ikan dan tidak mengandung zat ataupun organisme yang membahayakan ikan. Air yang digunakan bisa berasal dari sungai, genangan air, maupun mata air/air sumur. Menurut Ir Hardaningsih, dosen Jurusan Perikanan UGM yang juga mendampingi studi banding ini, sebelum ditebari ikan, air harus diendapkan terlebih dahulu selama beberapa hari. Sebab, pada kondisi tanah tertentu, air mata air / air sumur banyak mengandung Fe ataupun S yang berbahaya bagi ikan. Jika kadar Fe dan S terlalu tinggi, sebelum masuk kolam pengendapan air disaring dengan menggunakan arang dan kapur.
Pengendapan lebih bagus dilakukan di kolam khusus yang ditumbuhi eceng gondok. “Eceng gondok menjadi filter biologis. Ia juga bersifat menyerap logam berat dari air,” terang pria yang akrab dipanggil Gandung ini. Jika kolam pengendapannya luas, maka eceng gondok bisa dibiarkan tumbuh hingga ¾ dari luas kolam.
Menurut pengalaman Soerjadi, air yang akan digunakan harus diendapkan, baik yang berasal dari mata air, genangan (rembesan tanah / embung ataupun air hujan), apalagi air sungai. “Kalau air sungai, meski diendapkan pakai eceng gondok tetap ada yang mati setelah ditebari. Memang yang paling bagus adalah air dari mata air,”papar pembudidaya gurame sejak 30 tahun lalu ini.
Air kolam yang baik mengandung banyak oksigen dan sedikit amonia. Di daerah tertentu, ada yang airnya memiliki kandungan oksigen yang rendah, terutama di daerah hilir. “Seperti di Cilacap, aerator harus dinyalakan waktu malam hari,” tutur Soerjadi. Hanya saja, ketika ia mencoba menerapkannya, justru ikan-ikannya mabok karena lumpur kolam seperti diaduk-aduk. Setelah itu ia menyimpulkan bahwa aerasi hanya dapat dilakukan di kolam yang karakteristik tanahnya cenderung berpasir atau tanah yang tidak berlumpur. Untuk mengatasi amonia, Gandung menyarankan agar menggunakan probiotik yang mengandung bakteri pengurai nitrogen. “Sebab ada produsen probiotik yang ngawur katanya produknya bisa untuk A sampai Z tapi tidak diketahui apa mikroorganisme aktifnya,”pesannya.
Sumber : TROBOS
Membidik Cilacap sebagai Kampung Gurame
Dari 66 hektar yang diproyeksikan, Cilacap kebagian lahan pengembangan 30 hektar, 45%
Meski bukan produsen utama perikanan budidaya gurame di Jawa Tengah (Jateng), Cilacap merupakan salah satu daerah sasaran pengembangan kawasan kampung gurame (gurame center) di Jawa Tengah (Jateng). Dari 66 hektar yang diproyeksikan, Cilacap kebagian lahan pengembangan sebanyak 30 hektar (45%), dengan harapan mampu memproduksi 20 ton/ha/tahun (sekali panen). Selain Cilacap, beberapa daerah pengembangan kawasan lainya adalah Banjarnegara (15 ha), Banyumas (13 ha) dan Purbalingga (8 ha).
Dipilihnya Cilacap sebagai basis terluas untuk pengembangan kawasan gurame di Jateng karena daerah ini memiliki luas lahan ‘tidur’ yang belum terjamah. Selain itu, juga didukung letaknya yang strategis karena berada di perbatasan Jateng dan Jawa Barat (Jabar) yang relatif dekat Ibukota Jakarta. Sehingga pangsa pasar lebih cepat dan dekat dijangkau. “Cilacap bukan hanya potensi budidaya, tapi juga pasar yang mudah terjangkau,” terang Galih Rasiono, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Jateng.
Mulai Berkembang
Adalah Kecamatan Maos, salah satu wilayah potensi yang mampu membuktikan kehandalan pasokan rutinitasnya mencapai 6 kuintal saban minggunya, dari lahan yang dimanfaatkan 27,16 ha. Pasar utamanya Jakarta dan Bandung..
Sejauh ini, untuk pengembangan perikanan budidaya secara umum Cilacap baru memanfaatkan lahan sebanyak 17% (433.32 ha), dari luas lahan 2.535 ha yang dimiliki. Maka menjadi sebuah keniscayaan, melalui pengoptimalan lahan sisa tersebut di kemudian hari Cilacap merupakan pusat budidaya perikanan. Perkembangan budidaya perikanan gurame Cilacap juga dilaporkan oleh Sri Sunarti, penyuluh lapang Dinas Pertanian Cilacap. Ia mengatakan, beberapa tahun belakangan terjadi penambahan/perluasan lahan. Diindikasikan dengan bertambahnya “jam kunjungan” kerjanya ke lapangan. Termasuk ia seringkali dimintai bantuan mencarikan benih, sarana-prasana sampai akses pasar. Bahkan ia membantu menyusun proposal pengajuan permohonan penambahan modal ke Bank.
Kegigihan petugas penyuluh lapang Sri Sunarti ini dirasakan langsung oleh H Purwoko, pembudidaya gurame Maos-Cilacap. Peran Sri dalam transfer informasi dengan pendekatan persaudaran diakui Purwoko mengantarkan kesuksesannya sebagai pembudidaya gurame ternama di daerah itu. “Bukan saja sebagai petugas penyuluh, tapi mitra kerja,” kata pemilik 23 kolam di atas lahan 1,6 hektar ini.
Pengemangan minapolitan di Jateng
Program minapolitan yang tengah digarap oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) beserta Departemen Pekerjaan Umum (DPU) disambut baik oleh kalangan Pemerintah Daerah (Pemda), termasuk Pemda provinsi Jawa Tengan (Jateng). “Kami sangat mendukung pengembangan kawasan minapolitan ini jika komoditas yang akan dikembangkan digemari oleh masyarakat,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi Jateng, Galih Rasiono saat dihubungi TROBOS. Menurut dia, program pengembangan kawasan minapolitan di Jateng akan dilakukan di tiga kabupaten yaitu Boyolali, Banyumas dan Klaten.
Demi pengembangan kawasan minapolitan di wilayah Jateng, Galih menyebutkan, pihaknya akan menyiapkan dana khusus dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). “Meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak. Tetapi saya pikir ini bisa dimanfaatkan untuk pengembangan minapolitan,” ujar Galih tanpa menyebut angka. Gawe besar ini akan melibatkan beberapa instansi seperti DKP dan DPU. “Untuk pembangunan infrastrukturnya kita akan serahkan ke DPU.”
Sedangkan untuk mengantisipasi timbulnya konflik penggunaan tata ruang, Galih mengatakan jika pihaknya telah mengantisipasi dengan melakukan kordinasi dengan semua dinas terkait. “Ini kita lakukan untuk memperkecil kemungkinan adanya penyalahgunaan tata ruang. Karena kalau itu sampai terjadi dikemudian hari akan sangat merugikan semua pihak,” tegasnya.
“Kampung Lele” Boyolali
Salah satu kawasan minapolitan yang akan dikembangkan di Jateng adalah “kampung lele” yang terletak di Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Boyolali. Menurut Galih, wilayah tersebut memang memiliki potensi yang besar untuk pengembangan usaha ikan lele, mulai dari budidaya hingga pengolahannya. “Kita akan kembangkan mulai dari hulu sampai hilir,” tandasnya. Rencananya, kawasan itu akan dijadikan kota perikanan yang mampu tumbuh dan berkembang sejalan dengan komoditas unggulan dan usaha agribisnis yang dikembangkan.
Gayung bersambut, pengembangan kawasan minapolitan di Boyolali ini mendapat respon posistif dari Bupati Boyolali, Sri Mulyanto. Dikutip media, Mulyanto menyatakan komitmen kesiapan Pemkab Boyolali dalam mendukung program minapolitan. Sebab hal ini merupakan peluang bagi pengembangan perekonomian rakyat Boyolali.
Mulyanto yakin, hal tersebut sangat mungkin dilakukan. Sebab potensi sumberdaya ikan dan juga sumberdaya manusia yang dimiliki sudah cukup memadai. Struktur pengembangan kawasan minapolitan di Boyolali meliputi pengembangan kota tani (desa dengan fasilitas kota) sebagai pusat kegiatan, pusat pelayanan agribisnis, serta kawasan desa pemasok bahan baku.
Dia menambahkan, pengembangan kawasan minapolitan di Boyolali juga akan ditunjang dengan pendanaan dari APBN sebesar Rp 700 juta. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk pembangunan sentra pengolahan dan pembangunan kolam khusus untuk pengasapan ikan lele. Rencananya, selain dijadikan sebagai ikon perikanan nasional, kawasan “kampung lele” Boyolali juga akan diangkat sebagai salah satu kawasan perikanan yang ternama di dunia internasional.
Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Januari 2009
Bisnis Gurame: Jakarta Masih Kekurangan Pasokan
Tingginya permintaan Jakarta tidak terpengaruh kenaikan harga BBM, kalau pun suplai menjadi dua kali lipat dipastikan masih terserap
Luar biasa! Jakarta memang masih menjadi pasar utama bagi semua komoditas perikanan. Tak terkecuali untuk ikan gurame. Saban hari, sedikitnya ada 30 truk ikan gurame hidup masuk ke wilayah Jakarta, dengan kapasitas masing-masing truk berisi tak kurang dari 7,5 kuintal ikan gurame. “Artinya, dalam sehari sedikitnya ada 22,5 ton ikan gurame hidup yang menyerbu masuk pasar Jakarta,” ujar Budi Setiadi, salah seorang pengepul ikan gurame di wilayah Jakarta.
Jumlah tersebut belum termasuk ikan gurame yang sudah dalam keadaan mati, yang biasanya masuk ke Jakarta melalui pasar ikan muara angke. Menurut pria yang telah lebih dari 10 tahun terjun dalam bisnis gurame ini, setiap hari sekurangnya ada 5 truk yang mengangkut ikan gurame mati dengan tujuan pasar muara angke. Masing-masing dari truk tersebut biasanya mampu mengangkut 3 ton ikan gurame. “Muatannya bisa lebih banyak, karena ikan gurame yang mati tidak diangkut dengan menggunakan air.”
Meski demikian, Budi menggarisbawahi jika jumlah tersebut masih jauh dari cukup, karena permintaan masyarakat Jakarta terhadap jenis ikan yang banyak dikonsumsi oleh kalangan masyarakat kelas mengengah-atas ini masih jauh lebih besar dari pasokan yang mampu disediakan oleh para pembudidaya. “Dari dulu sampai sekarang suplai ikan gurame masih kurang terus. Pembudidaya masih belum mampu memenuhi permintaan. Terutama untuk memenuhi permintaan pasar Jakarta dan sekitarnya,” ungkap Budi.
Permintaan masyarakat terhadap ikan gurame inipun akan semakin besar pada saat lebaran dan tahun baru tiba. Satu hal yang membuat bisnis gurame ini kian menarik adalah, tingginya permintaan masyarakat Jakarta terhadap ikan gurame ternyata tidak terpengaruh dengan adanya kenaikan harga BBM. “Pasca kenaikan harga BBM permintaan justru semakin meningkat,” imbuh Budi meyakinkan. Menurutnya, hal tersebut tak lepas dari segmen pasar ikan gurame yang membidik kalangan ekonomi mengengah-atas, sehingga para konsumennya pun tak pernah terpengaruh dengan adanya kenaikan harga BBM.
Karena itu, Budi pun berujar dengan nada optimis, “Kalau saja suplainya ditambah menjadi dua kali lipat dari saat ini, saya yakin pasti masih akan terserap.” Kenyataanya, suplai gurame dari para pembudidaya masih belum mampu memenuhi kuota tersebut dan ini menjadi peluang besar bagi para kaum pemodal yang ingin terjun dalam bisnis budidaya ikan gurame.
Diserap Restoran dan Swalayan
Menurut Budi, tingginya permintaan gurame di Jakarta dan sekitarnya ini tak lepas dari semakin menjamurnya restoran-restoran seafood yang tak pernah absen menyediakan menu berbahan ikan gurame. Selain itu, besarnya pemintaan ikan gurame juga datang dari pasar-pasar swalayan, yang pada akhir-akhir ini selalu menyediakan gerai khusus untuk ikan gurame. “Biasanya restoran-restoran besar dan pasar swalayan minta gurame hidup. Sedangkan gurame yang mati masuk ke pasar tradisional dan restoran-restoran kecil,” terang Budi yang biasa mensuplai gurame ke restoran, Hero dan Giant.
Tingginya serapan pasar ikan gurame di wilayah Jakarta dan sekitarnya juga diakui oleh Galih Adi Nugroho, Pemilik depot pakan ikan dan kemitraan budidaya gurame Putra Mangestoni di Bantul-Yogyakarta, “Wilayah Jakarta dan sekitarnya memang merupakan pasar terbesar untuk ikan gurame.” Alasan tersebutlah yang menyebabkan Galih dan para mitranya menjadikan Jakarta sebagai tujuan utama untuk memasarkan gurame yang dihasilkannya. “Setiap minggu saya bisa kirim gurame 3 – 5 kali ke Jakarta dan Puncak-Bogor, antara 1,5 – 3 ton,” sambung Galih yang juga putra dari ‘bos’ gurame kondang di eks Karasidenan Banyumas. Hampir semua dari ikan gurame yang dikirim Galih juga bermuara di restoran-restoran besar.
Semakin besarnya serapan pasar swalayan terhadap ikan gurame juga pernah dirasakan Galih. Bersama dengan ayahnya dia pun sempat mencoba untuk memasok gurame ke Carraefour. Meskipun pada akhirnya mereka merasa kewalahan, karena permintaan salahsatu pasar swalayan terbesar tersebut terus meningkat dari waktu ke waktu. “Mulanya mereka hanya minta 5 kuintal/hari. Lama-lama 2 ton/hari dengan kualitas yang harus sama persis. Akhirnya kami mundur, karena masih pingin bisa tidur dengan nyenyak,” kisahnya sambil terkekeh.
suber: Majalah TROBOS