Minggu, 10 Mei 2009

Ekspor Patin Masih Terganjal

Patin Indonesia kalah bersaing dalam hal harga dengan patin Vietnam

Tekad Indonesia untuk menggeser posisi Vietnam sebagai produsen utama patin dunia masih membentur dinding beton. Alih-alih mewujudkan tekad tersebut, pasar dalam negeri justru kebanjiran oleh produk patin asal Vietnam. Alasanya, karena kalah bersaing soal harga.
“Patin Vietnam telah masuk pasar Indonesia sekitar 500 ton per bulan,” kata Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan – Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) pada acara temu bisnis peluang usaha dan investasi patin di Jakarta awal April lalu. Dia menyebutkan, harga patin dari Indonesia mencapai Rp 17. 000 per kg, sementara Vietnam bisa menjualnya dengan harga yang jauh lebih murah yaitu Rp 9.000 per kg. Tak heran jika konsumen utama patin seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) lebih memilih patin dari Negeri Paman Ho.

Tak Bisa Jual Patin
Kondisi terakhir inilah yang menjadi keluhan pelaku usaha patin di tanah air. Denny Indradjaja, General Manager Business Research and Government Relation PT CP Prima yang hadir pada acara tersebut menganggap, pasar patin untuk saat ini kurang prospektif. “Selama kita tak bisa menjual patin dengan harga seperti Vietnam, maka kita tetap tidak bisa ekspor patin,” katanya setengah putus asa.
Denny menuturkan, pihaknya pada tahun lalu telah memulai usaha budidaya patin bekerjasama dengan Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar, Sukamandi. Tujuan utamanya adalah menembus pasar ekspor. Maka tak tanggung-tanggung, mereka mengadopsi persis semua teori budidaya patin yang diterapkan di Vietnam.
Hasilnya cukup fantastis. Emma Dolly Raphen, Marketing Commercial Fish PT CP Prima menyebutkan, produksi perdana budidaya patin ala Vietnam itu mencapai 150 ton untuk dua kolam ukuran 6000 m2. “Tapi, kita tak bisa menjualnya karena kalah harga dengan Vietnam,” katanya. Patin-patin tersebut kini bahkan telah mencapai ukuran 1,5 sampai 2 kg dengan masa budidaya mencapai hampir setahun.

Ada Peluang
Tingginya harga patin Indonesia jika dibandingkan dengan patin Vietnam juga diakui Saut P Hutagalung, Direktur Pemasaran Luar Negeri, Ditjen P2HP DKP. Tapi, katanya, harga yang murah itu karena kandungan air patin Vietnam sangat tinggi hingga mencapai 40%. “Kalau dioven, daging patin Vietnam susut tinggal 60%,” ujarnya. Sementara menurut Emma, kandungan air patin Indonesia hanya 10%.
Walau demikian, kata Saut membesarkan hati, masih ada peluang bagi patin Indonesia di pasar dunia. Menurut dia, konsumen patin di AS dan UE saat ini sudah tahu kalau patin Vietnam murah karena kandungan airnya tinggi. Selain itu, lingkungan budidaya di Vietnam juga sudah buruk sehingga produk budidayanya bisa mengkhawatirkan konsumen. Beda dengan Indonesia yang mengembangkan patin dari lingkungan yang masih baik.
“Peluang masih terbuka. Beberapa negara seperti Kanada, Slovakia dan Uni Emirat Arab sudah meminta pasokan patin dari Indonesia,” katanya. Mereka meminta patin yang berdaging putih dengan ukuran minimal 800 gram.
Menurut Saut, adanya krisis finansial global telah meningkatkan permintaan patin. Sebab, harga patin lebih murah dibandingkan dengan ikan-ikan lainnya. Disamping itu, adanya pembatasan penangkapan ikan cod di UE karena telah kelebihan tangkap (overfishing) juga kian mendongkrak permintaan patin di sana. Patin dianggap bisa menggantikan kedudukan ikan cod yang selama ini menjadi makanan favorit penduduk Eropa. Struktur daging ikan berkumis ini hampir sama dengan ikan cod dan harganya murah.
“Tantangan kita saat ini adalah membuat patin lebih murah biaya produksinya,” ujar Saut. Ditambahkan Martani, “Kalau bisa menggantikan impor patin dari Vietnam, itu sudah luar biasa.”

Terobosan Teknologi Budidaya
Demi menghasilkan patin dengan biaya produksi yang rendah ini maka harus ada terobosan teknologi budidaya yang bisa mempercepat pertumbuhan patin. Demikian diungkapkan Gunadi Ali Wirawan, Diektur Utama PT Muara Manggalindo pada kesempatan yang sama.
Menurut dia saat ini untuk mencapai ukuran patin 1 kg membutuhkan waktu sekitar 9 bulan. “Padahal ada yang sudah bisa budidaya dalam waktu 5 bulan. Karena itu kecepatan tumbuh harus dikejar,” kata Gunadi yang mengaku telah melakukan ekspor fillet patin.
Dia menambahkan, ada banyak faktor yang membuat harga patin di Indonesia lebih mahal daripada Vietnam, yang utamanya adalah komponen teknologi budidaya dan pakan. Vietnam bisa menghasilkan patin murah karena pakannya juga murah dan masa budidayanya singkat.
Dia menyebut, harga pokok patin Vietnam berkisar Rp 6000-7000 per kg. Sedangkan di Indonesia, harga pokoknya berkisar Rp 8.000 – Rp 11.000 per kg. Karena itu, sulit bagi Indonesia untuk menyamai harga patin Vietnam.
Sementara itu dalam proses pengolahan fillet patin, Vietnam merendam daging patin di dalam air dengan diberi bahan kimia yang bisa menahan air tersebut agar tak keluar lagi. Alhasil, bobot fillet patin menjadi bertambah. Menurut Gunadi, bahan kimia ini kini telah dilarang penggunaannya oleh FDA (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) AS.
Soal pakan, Vietnam bisa lebih murah karena sebagian bahan baku pakan bisa diproduksi di dalam negeri. “Vietnam utara beriklim subtropis sehingga bisa ditanami kedelai untuk bahan pakan,” kata Gunadi. Sedangkan Indonesia, nyaris semua bahan baku pakannya seperti kedelai dan jagung harus impor.
Selain itu, kata Denny menambahkan, pakan di Vietnam bisa lebih murah karena impor bahan baku pakannya bebas bea masuk (BM). “Kalau di Indonesia, BM bahan bakuk pakan mencapai 5%. Karena itulah harga pakan di sana bisa lebih murah 10 -15% dibandingkan pakan Indonesia,” ujarnya.

Sumber: Trobos, Mei 2009

Akuakultur China Meraja, Indonesia Keteter

Produksi gemilang akuakultur China dimulai pada start yang sama dengan Indonesia pada 1949, di angka 20 ribu ton/tahun

China benar-benar membuktikan ramalan banyak pakar yang menyebutkannya bakal menjadi kekuatan besar di dunia. Paling tidak, ini terlihat jelas di sektor perikanan.
Negeri Panda tersebut secara menakjubkan berhasil meningkatkan produksi perikanan budidaya hingga menjadi yang terbesar di dunia, mencapai lebih dari 40 juta ton per tahun. China sadar betul, ke depan, masyarakat dunia akan kian membutuhkan pasokan produk perikanan. Apalagi dengan adanya tren untuk lebih memilih mengkonsumsi produk hewani berdaging putih (white meat) daripada daging merah (red meat). Maka, produksi perikanan budidaya harus digenjot. Sebab perikanan tangkap sudah tak mungkin lagi diharapkan setelah terus menerus dieksploitasi sumberdayanya. Dengan kata lain, perikanan budidaya adalah kunci memenangi persaingan dunia yang kian ganas.
Lebih dari itu, China juga berkepentingan untuk mencukupi sendiri kebutuhan ikan bagi satu setengah miliar warganya. Itulah mengapa China habis-habisan mengembangkan industri perikanannya. Satu bukti keseriusan China mengembangkan perikanan mereka adalah dengan membangun pasar ikan terbesar di dunia dengan luasan tak kurang dari 40 hektar. Diperkirakan, pasar ikan yang kini sedang dibangun di Shanghai tersebut nilai transaksinya akan melampaui transaksi Pasar Tsukiji Hideji Otsuki—pasar induk ikan terbesar di dunia saat ini—di Tokyo Jepang. Perputaran uang untuk ikan di Pasar Tsukiji yang sudah ada sejak zaman Edo (sekitar 400 tahun lalu) tersebut sekitar 300 juta yen per hari (sekitar Rp 27,6 miliar).
Hebatnya lagi, produksi yang gemilang atas perikanan budidaya China ini dimulai pada start yang sama dengan Indonesia, yakni berada pada angka produksi 20 ribu ton per tahun pada 1949. Sayangnya beberapa dasawarsa setelah itu, produksi perikanan budidaya China melesat meninggalkan Indonesia. Kendati dari sisi potensi wilayah, Indonesia lebih unggul dibandingkan Negeri Tirai Bambu itu (lihat tabel). Diperkirakan, produksi perikanan China masih akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan akan bisa melampaui produksi babi yang selama dua dasawarsa terakhir menjadi sumber utama protein hewani di sana.
Sementara Indonesia yang meskipun menurut data FAO 2007 masih bertengger di posisi ke tiga sebagai produsen akuakultur dunia, namun angka produksinya sangat jauh dari China. Hanya 3 juta ton, sangat tidak sepadan dengan potensi akuakultur bumi nusantara yang sangat besar. Padahal seperti China, Indonesia termasuk negara dengan populasi penduduk yang besar. Siswono Yudo Husodo, Dewan Penasehat HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) dalam satu kesempatan di Jakarta menyebutkan, dalam waktu 40 tahun, penduduk Indonesia akan menjadi 2 kali lipat. Jika tahun 2000 jumlah penduduk Indonesia mencapai 200 juta jiwa, maka pada 2040, populasinya akan menjadi 400 juta jiwa.
”Ini akan menjadi pasar raksasa,” kata Siswono mengingatkan. Jika akuakultur dipastikan akan mendominasi konsumsi pangan hewani di masa depan, maka Indonesia setidaknya harus bisa mencukupi sendiri kebutuhan produk tersebut bagi warganya. Jika tidak, Indonesia hanya akan menjadi bulan-bulanan produk akuakultur dari negara lain.

Permintaan Pakan Meningkat
Peran penting akuakultur memang kian tak terbantahkan. Karena itulah beberapa negara ramai-ramai meniru langkah China, terutama negara-negara di Asia Pasifik seperti India, Vietnam, Thailand dan tentu saja Indonesia. Mereka mengekor China dan bersaing ketat sebagai produsen akuakultur utama dunia.
Adanya perlombaan produksi perikanan budidaya menurut Budi Tangendjaya –peneliti dan konsultan pakan ternak dan ikan— bisa ditengarai dari meningkatnya konsumsi perikanan dunia terutama di Amerika Serikat dan di Uni Eropa (UE). Walau demikian, harga komoditas tersebut justru turun. Artinya telah terjadi peningkatan volume produksi perikanan budidaya di dunia. Sebab, produksi perikanan tangkap cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir.
Kian berpacunya banyak negara dalam menghasilkan ikan-ikan budidaya juga terlihat dari permintaan pakan (pellet) ikan dan udang yang cenderung meningkat. Budi mengatakan, permintaan pakan ikan dan udang ini akan terus naik karena budidaya ikan secara tradisional yang menggunakan pakan alami seperti ikan rucah sudah mulai ditinggalkan dan beralih menggunakan pakan buatan. Di China misalnya, kata Budi, produksi akuakultur meningkat karena penerapan teknologi budidaya intensif yang tidak mengandalkan pakan alam melainkan dari pabrik.
Secara terpisah, Ketua Divisi Ikan Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT), Denny Indradjaja menyebutkan, permintaan pakan ikan dan udang di seluruh dunia terus naik. Di Indonesia saja terjadi peningkatan sebesar 5%. Sementara, kenaikan permintaan pakan terbesar terjadi di Vietnam, yakni mencapai 10%. ”Semua pabrikan pakan ikan/udang di dunia saat ini mempunyai pabrik di Vietnam,” Denny menjelaskan.
Denny menyebutkan, untuk ikan patin saja Vietnam membutuhkan 1,5 juta sampai 2 juta ton pakan ikan per tahun. Sedangkan di Indonesia, total pemanfaatan pakan ikan dan udang setiap tahunnya hanya sekitar 800 – 900 ribu ton. Secara umum, serapan pakan ikan/udang di tanah air hanya 30% dari serapan pakan ikan/udang Vietnam dan 10 – 15% dari serapan pakan ikan/udang di Thailand.
Padahal menurut Denny, penggunaan pakan buatan ini sangat penting dalam mendukung kegiatan akuakultur. Pellet bisa mempercepat masa budidaya hingga 2 kali lipat. Penggunaan pakan formula ini di negara-negara kompetitor di atas sudah mencapai 80%. Sedangkan di Indonesia baru sekitar 60%.
Di sisi lain, Vietnam juga sangat cerdik memanfaatkan bahan-bahan lokal sebagai bahan baku pakan, yakni mencapai 70%. Misalnya, menurut Budi, Vietnam tidak lagi menggunakan tepung ikan yang mahal sebagai sumber protein bagi pakan ikan patin. Hal itu memungkinkan karena patin tidak membutuhkan protein yang tinggi, cukup 22% bukan 32%. Sebagai sumbernya, mereka menggunakan bungil kedelai, MBM (meat bone meal/tepung tulang dan daging) dan PMM (poultry meat meal/tepung daging unggas) yang jauh lebih murah daripada tepung ikan. Sementara di Indonesia, kandungan bahan lokal pada pakan ikan/udang menurut Denny baru sekitar 30%. Sehingga biaya pakan ikan/udang di Vietnam lebih murah daripada di Indonesia.

Peluang Budidaya Kepiting Soka Menganga

Permintaanya terus meningkat dan usaha budidayanya belum berkembang. Sayang masih terkendala bibit

Cara lama menyantap kepiting telah berakhir. Anda tak perlu berjuang mengkorek-korek cangkangnya demi mengeluarkan dagingnya. Alih-alih, cangkang tersebut bisa dimakan.
Kepiting inilah yang kerap disebut sebagai kepiting soka/lunak (soft shell). Semua bagian tubuh kepiting tersebut bisa dimakan, termasuk cangkangnya yang keras. Fakta itu tak ayal membuat popularitas kepiting soka naik.
Permintaannya terus melonjak meski harganya cukup tinggi. Harga per kilonya bisa mencapai sekitar Rp 60 ribu. Namun, hidangan ini belum banyak tersedia di restoran-restoran penyaji makanan akuatik.
Pasokan kepiting soka masih rendah karena usaha budidayanya belum berkembang. Alasannya terkendala oleh bibit yang selama ini hanya mengandalkan tangkapan alam. Kendati demikian, usaha budidaya kepiting soka tetap menyimpan peluang besar. Apalagi dengan kian bertambahnya penggemar Mr. crab dari hari ke hari.

Produk Rekayasa Budidaya
Lepas dari masalah bibit, budidaya kepiting soka telah mulai dikembangkan di beberapa daerah di pesisir tanah air. Salah satunya di Sidoarjo Jawa Timur. Adalah para tenaga pengajar budidaya di Akademi Perikanan Sidoarjo (APS) yang mulai mengembangkan teknik budidayanya.
Kepiting ini pada dasarnya merupakan produk rekayasa budidaya yang menghasilkan kepiting dengan kulit (cangkang/karapas) yang lunak. Menurut Ketua Jurusan Budidaya APS, Moh. Zainal Arifin, intinya adalah memanen kepiting yang dipelihara saat ganti kulit (molting).
Jenis kepiting yang dibesarkan yaitu kepiting bakau. Kata Zainal, setidaknya ada 3 jenis kepiting bakau yang punya nilai ekonomis tinggi antara lain Scylla serrata, Scylla oceanica, dan Scylla transquebarica.
Dari ketiga jenis kepiting tersebut, Scylla serrata pada umur yang sama umumnya berukuran lebih kecil dibandingkan kedua jenis lainnya. Namun dari segi harga dan permintaan, jenis Scylla serrata terbukti lebih unggul.
Lebih lanjut ia menjelaskan, percobaan teknik budidaya kepiting soka yang diterapkan di lahan praktek budidaya milik AP seluas 17,5 hektare menggunakan sistem keramba apung. “Kita buat seperti keranjang apung dengan membuat kotakan-kotakan kecil untuk menaruh kepiting atau biasa disebut kolam baterai,” kata Zainal kepada TROBOS beberapa waktu lalu di Sidoarjo.
Masing-masing keramba, lanjutnya, digantungkan pada jalur tali tambang yang dibuat memanjang sesuai dengan ukuran tambak. Posisi keramba sejajar dengan permukaan air. Kedalaman air tambak yang ideal sekitar 1 meter. Keramba dibuat dari bambu yang diikat dengan tali tambang dengan sekatan menggunakan jaring
Ukuran keranjang adalah panjang 1 meter dan lebar 50 cm, dengan kedalaman 15 cm. Satu keramba disekat menjadi 18 petak dengan masing-masing petak berukuran panjang, lebar dan dalam 15 cm. Satu petakan muat untuk memelihara seekor kepiting dengan kedalaman air 10 cm. Pola pemeliharaan sistem sekatan ini cukup efektif, mengingat kepiting punya sifat kanibalisme yang cukup tinggi.
Dengan ukuran tambak milik APS yang digunakan seluas 4 ribu meter persegi, bisa dibuat sekitar 750 keramba. Artinya, dengan tambak seluas itu bisa memelihara tidak kurang dari 13 ribu ekor kepiting. Biaya membuat satu keramba sekitar Rp 100 ribu. Rata-rata kepiting yang dipelihara berukuran 100 gram per ekor atau 1 kg isi 10 sampai 12 ekor.
Bibit kepiting dibeli dari nelayan dengan harga sekitar Rp 15 ribu per kg. Sebelum mulai dipelihara dalam keramba, terlebih dahulu dilakukan pemotongan bagian tubuh kepiting yaitu dengan melepas sepasang capit dan 3 pasang kaki jalan. “Rekayasa tersebut dilakukan untuk merangsang terjadinya proses molting,” jelas Zainal.

Sumber : Trobos, Mei 2009

Sabtu, 02 Mei 2009

Riau Akan Bangun Pabrik Ikan Villet di Kampar

ImageRencana pembangunan pabrik ikan villet (daging bersih) di Kampar segera memasuki tahap pelaksanaan. Diperkirakan, April 2009 nanti penawaran pembangunan pabrik ikan villet akan dimulai, lokasinya di Desa Koto Perambahan, Kecamatan Kampar Timur, Kabupaten Kampar. Tergetnya akan merambah pasar ekspor.


Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Riau, Tengku Dahril, pada acara ekspos PT Kamparikom di kediaman Gubernur Riau, Jl. Gajah Mada, Pekanbaru,Kamis (19/3/2009) mengatakan, Pemprov Riau dan Pemkab Kampar hanya sebagai penyerta modal dalam pembangunan pabrik tersebut. Sedangkan pembangunannya dilakukan oleh PT Bonekom dan pengelolaannya dilakukan PT Kamparikom.

”Anggaran yang dibutuhkan pada tahap awal ini sekitar Rp 10 miliar sampai Rp 15 miliar lebih. Dengan rincian anggaran 38% dari Bonekom yang akan membangun pabrik ikan, Pemkab Kampar 38% dan Pemprov Riau 28%. Pihak BI (Bank Indonesia) juga sudah menyanggupi untuk memfasilitasi pembangunan pabrik pengolahan ikan ini. Kalau anggaran yang dibutuhkan hingga selesai yaitu sekitar Rp 200 miliar,” jelas Dahril kepada riaubisnis.com.

Dahril mengungkapkan, pembangunan pabrik ikan itu pelaksanaannya akan memakan waktu sembilan bulan hingga setahun. Kebutuhan awalnya, 30 ton ikan jenis patin dan nila untuk diolah menjadi ikan villet, yaitu sejenis produk ikan yang dibuka tulang dan kulitnya baru dipasarkan. ”Produksi awal untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, setelah cukup berkembang baru kita lakukan ekspor ke luar. Target kita yang pertama adalah ke Timur Tengah, Eropa dan Amerika,” paparnya.

Untuk memenuhi kebutuhan ikan di pabrik pengolahan, kata Dahril, budidaya ikan juga akan dikembangkan di tiga sungai besar lainnya. Yakni Sungai Indragiri, Rokan dan Siak, serta daerah lainnya yang memiliki sungai dan berpotensi untuk menghasilkan ikan.

”Tadi perusahaan telah melakukan ekspos terkait dengan masalah internal publik dan perencanaan masyarakat. Karena ikan yang akan dikelola oleh pabrik nantinya merupakan ikan hasil masyarakat, di antaranya masyarakat inti yang tiap hari menghasilkan ikan 30 ton dan akan dikembangkan menjadi 80 ton perhari. Hingga 2018 produksi ikan petani di Riau kita harapkan telah mencapai 180 ton per hari,” ujar Dahril.

Dahril menambahkan, Gubernur Riau sangat mendukung rencana pendirian pabrik pengolahan ikan pertama di Riau tersebut. Untuk itu, dia berharap sungai-sungai lain yang ada di Riau bisa dikembangkan sehingga dapat membangun pabrik pengolahan yang sama. ”Untuk wilayah Kampar saja produksi ikannya saat ini sudah mencapai 52-60 ton per hari. Khusus patin baru sekitar 50% dari jumlah produksi. Namun demikian, produksi ikan ini sudah sangat memungkinkan untuk didirikan pabrik pengolahan ikan villet,” ungkapnya.

Untuk pemasaran ikan hasil produksi, rencananya dilakukan langsung kepada konsumen dalam dan luar negeri, serta pemasaran dalam bentuk olahan. ”Sampai saat ini Riau telah menghasilkan 10 produk turunan ikan. Seperti ikan salai, nugget ikan patin, kerupuk, bakso ikan, burger, roti naga dan banyak lagim,” kata Dahril.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kampar, Zulher mengatakan, Pemkab Kampar sudah lama menginginkan adanya pembangunan pabrik pengolahan ikan. Karena potensi ikan yang ada di daerah itu, sudah mendukung didirikannya sebuah perusahaan pengolahan ikan, baik ikan patin maupun ikan nila.

”Bupati Kampar sangat komit untuk mendirikan pabrik pengolahan ikan. Ini merupakan satu-satunya upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Apalagi visi Kampar ingin menjadi pusat agribisnis. Untuk sarana dan anggaran kita sudah siap,” ucap Zulher, tanpa menyebutkan secara rinci berapa anggaran tahap awal yang akan disediakan oleh Pemkab Kampar, untuk mendukung pembangunan pabrik pengolahan ikan villet itu. (*)


sumber: RiauBisnis, Maret 2009

WWF Menekankan Pentingnya Perikanan Budidaya yang Berkelanjutan

The World Wildlife Fund (WWF) telah merespon laporan terbaru dari PBB, menekankan perlunya peningkatan dalam budidaya ikan dan udang yang berkelanjutan.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengatakan bahwa pasokan makanan dari sektor budidaya sekarang adalah sama dengan hasil tangkapan perikanan laut dan air tawar.

Berdasarkan dokumentasi laporan hasil perikanan tangkap yang terus mengalami penurunan (drop-off), FAO mengatakan “Diperlukan pendekatan manajemen kegiatan perikanan yang lebih terkontrol”.

“Sektor budidaya mengalami pertumbuhan yang dramatis sehingga sangat diperlukan kepastian segera tentang keberlanjutan dan kemampuan dalam menyediakan stok dan pangan untuk mengurangi beban pada perikanan tradisional,” ungkap Miguel Jorge, Direktur Program Kelautan Global WWF.

“Pembukaan lahan di area mangrove harus dihentikan karena area ini merupakan habitat ikan yang rentan terhadap kerusakan lingkungan sehingga resiko polusi dan penyakit harus diturunkan.

Serangkaian dialog akuakultur yang diselenggarakan oleh WWF dan melibatkan lebih dari 2000 petani, organisasi masyarakat (NGO) dan para ahli sedang membuat standar global untuk menurunkan dampak serius dari kegiatan budidaya terhadap lingkungan dan sosial.

Pertimbangan standar awal sedang difokuskan pada 12 spesies dengan dampak ekonomi dan lingkungan yang paling serius, dan diurus oleh badan yang serupa dengan Marine Stewardship Council, perintis skema sertifikasi perikanan tangkap yang berkelanjutan.

SOFIA 2008 juga mencatat peningkatan sebesar 80% dalam jumlah hasil perikanan yang telah melebihi kapasitas (over-exploited), sehingga penurunan stok ikan mengancam ketahanan pangan di negara-negara berkembang dan kelangsungan hidup masyarakat pesisir di seluruh dunia.

(Sumber : www.thefishsite.com, Maret 2009

Ikan Patin Raksasa

PALEMBANG — Seekor ikan patin (Pangasius hypothalmus) raksasa seberat 43 kg dengan panjang sekitar 1,3 meter berhasil ditangkap nelayan di Sungai Musi. Patin yang umurnya diperkirakan sekitar delapan tahun itu dijual pedagang ikan di Pasar Cinde seharga Rp 2,3 juta.

Ukuran ikan itu memang ekstrabesar, hampir sama tinggi dengan anak usia lima tahun. Lebar tubuh mencapai 40 cm. Perutnya mengelembung berisi telur sekitar 3 kg. Warnanya putih dan belang hitam di bagian punggung, terasa kenyal saat dipegang.

Dapat dibayangkan, untuk seokor patin ukuran 1 kg biasanya habis oleh tiga orang sekali makan. Berarti, ikan raksasa ini cukup untuk lauk makan 130 orang.

Menurut Heri, selama lebih dari 20 tahun berdagang ikan di Pasar Cinde, baru kali ini ia mendapat ikan patin sungai seberat 43 kilogram. Ia mendapatkannya dari Yanto, seorang pengumpul ikan dari nelayan di kawasan Sungai Lais, sekitar pukul 08.00.

Ikan patin itu masih hidup saat dibawa ke pasar. Awalnya Yanto menawarkannya kepada Zairul, pedagang ikan lainnya. Namun, Zairul tidak sanggup membelinya karena Yanto menetapkan harga Rp 40.000 per kg atau sekitar Rp 1,6 juta.

"Kalau patin 30 kg itu biasa, kadang dapat kita. Namun, kalau sebesar anak SMP seperti ini baru luar biasa," kata Heri. Kehadiran ikan raksasa di lapak dua bersaudara ini sempat mengundang perhatian warga, bahkan sesama pedagang ikan pun sempat dibuat takjub. Memang ikan sebesar ini merupakan pemandangan yang tidak lazim.

"Ikan sebesar ini bukan dimakan buaya, tapi dia yang makan buaya," kata seorang pria yang mengamati patin itu dari dekat. Sumiati (47), seorang pegawai yang belanja ikan di Cinde mengaku kaget melihat ikan itu. Seumur hidupnya baru kali ini ia melihat ikan patin sebesar itu. "Tidak kuat mengambilnya, apalagi makannya. Mungkin untuk sedekahan makan 100 orang, ikan itu dak bakal habis," katanya.

Banyak warga yang mengambil gambar ikan raksasa itu menggunakan ponsel. Ada juga yang penasaran dan memencet tubuh ikan itu. Beberapa warga tertarik dan menanyakan harganya, tetapi urung karena Heri menyebut Rp 55.000 per kg.

Heri menolak ikan itu dipotong-potong. Karena kemarin tidak ada yang sanggup membelinya, ikan itu akan dijual ke Pekanbaru. "Kami bakal dapat untung besar karena harga ikan ini bisa sampai Rp 55.000 per kilo," ujar Heri.

Menurut dia, semakin besar ukuran ikan patin sungai, akan semakin mahal pula harganya. Harga ikan patin liar di bawah 5 kg dipatok Rp 40.000, tetapi kalau lebih, akan mencapai Rp 50.000- Rp 55.000 per kilo. Ikan patin sungai juga lebih mahal dari ikan patin tambak yang harganya berkisar Rp 30.000 per kilo.


Dihubungi terpisah, Yanto, pengumpul ikan yang menjual patin itu kepada Heri, mengatakan, patin raksasa seperti itu tergolong langka. Umurnya diperkirakan sekitar 7 atau 8 tahun. "Biasanya dagingnya lebih gurih dan gemuk. Cobalah kamu pasti merasakan bedanya, enak," katanya. (Aang/Wira)

Sumber: Kompas Nov 2008

Bukan Lumpur, Tapi Baglog Jamur


Sudah 2 minggu kolam 20 m2 itu kosong melompong. Eman Rahman, pemilik kolam di Lebakwangi, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, itu sulit mencari lumpur pengisi kolam agar ia segera dapat membudidayakan belut. Padahal, baglog jamur bekas bisa menggantikan lumpur seperti dilakukan Suparmo.

Suparmo, peternak di Desa Caringin, Kecamatan Balaraja, Tangerang, Provinsi Banten, memanfaatkan baglog-media tanam jamur-bekas sejak awal Maret 2009. Untuk mengisi kolam semen berukuran 2,7 m x 2,6 m, ia memerlukan 500 baglog. Sebelum menjadi peternak belut, Suparmo lebih dulu berkebun jamur tiram. Ia mengelola sebuah kumbung jamur berukuran 9 m x 5 m berkapasitas 3.000 baglog. Mula-mula baglog bekas ia gunakan untuk memupuk terung. Melihat pertumbuhan Solanum melongena sangat pesat, ia tertarik mencoba pada belut.

Plastik-plastik pembungkus baglog ia lepaskan. Kemudian pria kelahiran Ciamis 17 November 1966 itu menghancurkan baglog dan menambahkan tanah halus serta kotoran kerbau matang. Porsi bekas media jamur itu 2 kali lipat ketimbang tanah. Campuran ketiga bahan itu ia aduk rata di dasar kolam. Di bagian atas campuran itu, Suparmo meletakkan cacahan batang pisang. Porsinya kira-kira 20%. Cacahan batang pisang mampu merangsang pertumbuhan rotifera sebagai pakan belut.

Adaptasi

Di bagian teratas, barulah ia menambahkan 20% jerami dan mengairi media. Air hanya macak-macak. Total jenderal ketebalan media dari dasar kolam hanya 20 cm. Komposisi media itu ia biarkan selama sebulan agar terjadi fermentasi.

Indikasi media siap pakai jika media tak beraroma busuk. Saat itulah pria 43 tahun itu menebar 20 kg bibit terdiri atas 100-112 ekor per kg. Panjang bibit rata-rata sejengkal tangan. Pekan pertama 215 bibit meregang nyawa. 'Kemungkinan stres karena transportasi dan beradaptasi dengan lingkungan,' kata Suparmo. Maklum bibit belut didatangkan dari Kuningan, Jawa Barat, berjarak lebih dari 400 km.

Pada pekan kedua, Suparmo mendapati kematian belut hanya 2-3 ekor. Setelah itu hingga pada pertengahan April 2009, umur bibit belut sebulan 19 hari, tak ada yang mati. Ayah 3 anak itu memberikan pakan berupa 0,5 kg ikan kecil dan cacahan kodok rebus. Selain itu kadang-kadang ia juga meletakkan ayam mati. Belut tidak makan ayam, tetapi magot alias belatung yang keluar dari bangkai ayam.

Ketika Trubus berkunjung ke kolam, Suparmo tengah mengecek pertumbuhan belut. Secara acak ia mengambil 20 belut di lokasi berbeda. Panjang Monopterus albus itu rata-rata bertambah 5-8 cm dari panjang awal 15-18 cm. Suparmo baru akan memanen serentak pada akhir Juni 2009 sehingga produktivitas belut di media jamur belum diketahui.

Pakan alami

Ide Suparmo memanfaatkan baglog jamur merupakan terobosan baru. Selama ini peternak belut memanfaatkan campuran lumpur sawah dan pupuk kandang sebagai media belut. Yang pasti belut mampu bertahan dan berkembang di media baglog. Menurut Ade Sunarma, MSi, periset di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT), Sukabumi, Jawa Barat, penggunaan baglog sebagai media belut merupakan inovasi baru.

Menurut Sunarma media bekas jamur besar kemungkinan mempercepat pertumbuhan pakan alami. Alasannya, media itu lebih mudah terurai karena mengalami fermentasi dari serbuk gergaji, bekatul, dan biji-bijian. 'Apalagi ditambah gedebong pisang yang juga sudah busuk, proses fermentasi lebih cepat,' kata Sunarma. Dampaknya pakan alami lebih cepat tersedia sehingga memacu pertumbuhan belut.

Dengan ketersediaan pakan alami diharapkan belut tumbuh cepat dan seragam. Pertumbuhan yang seragam berarti juga mencegah kanibalisme. Menurut Sunarma keseragaman dipengaruhi faktor biologis dan perilaku. Secara biologis pertumbuhan jantan lebih cepat daripada belut betina. Meski demikian, peternak tak mampu memilih bibit jantan agar lebih dominan.

Soalnya, belut bersifat hemafrodit. Perubahan jenis kelamin secara menetap terjadi ketika belut berumur 3-4 bulan. Selain itu perilaku berebut pakan berpeluang membuat ketidakseragaman. Yang kuat berpeluang mendapat pakan lebih banyak. 'Namun, masih harus dikaji lebih lanjut seberapa besar kemampuan belut mengkonsumsi pakan,' kata Ade.

Penggunaan baglog bekas mempermudah peternak karena jumlahnya melimpah. Di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung, saja terdapat 400 pekebun jamur tiram. Setiap pekebun rata-rata mengusahakan 5.000-10.000 baglog. Ketika jamur tiram kian banyak diusahakan di berbagai kota, peluang untuk mendapatkan baglog bekas pun kian mudah. Selama ini baglog bekas hanya dibuang. Padahal, media apkir itu dapat menjadi hunian yang nyaman bagi belut. (Lastioro Anmi Tambunan)

Sumber: Trubus, Mei 2009